Kesejahteraan adalah hal yang sangat diidam-idamkan seluruh rakyat di berbagai negara di seluruh belahan dunia tak terkecuali di Indonesia. Tak ada satu orang pun yang tidak meimpikannnya. Kesejahteraan terasa sangat dibutuhkan masyarakat yang tengah dihimpit berbagai macam permasalahan. Namun tak dapat dipungkiri bayang-bayang kesejahteraan itu seakan sangat jauh dari harapan semua orang. Sejak bangsa ini merdeka hingga silih berganti pemerintahan yang dijalani sepertinya wujud nyata realisasi kesejahteraan ini semakin jauh dipelupuk mata semua orang.
Kesenjangan sosial sudah barang tak terelakkan. Walaupun saat ini pemerintah telah banyak menawarkan program peningkatan kesejahteraan namun dampaknya terasa begitu hambar. Seperti pendidikan gratis yang ternyata masih saja banyak kalangan masyarakat yang belum bisa menjangkaunya, belum lagi banyak mahasiswa yang harus semakin gigit jari dengan semakin melangitnya biaya kuliah setelah pengesahan UU BHP. Hal ini dari masalah pendidikan. Saat ini pun keadaan masyarakat masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan. Bahkan ada beberapa kalangan di masayarakat ini yang terpaksa memakan nasi aking hanya untuk bertahan hidup. Bayang-bayang kesejahteraan yang semakin jauh ini tak pelak membuat beban di pundak masyarakat semakin berat.
Sejak awal pemerintahan bangsa ini berdiri selalu kita diingatkan salah satu tujuan negara adalah memajukan kesejahteraan umum. Namun seakan surut dimakan zaman kesejahteraan tak pernah terwujud. Selama ini kita selalu didengungkan dengan mengatakan bahwa sistem di negara ini adalah sistem terbaik untuk negeri ini namun kenyataan di lapangan seakan membuat paradoks tersendiri bagi perjalanan bangsa ini. Kita sejak kecil menempuh pendidikan sekolah dasar selalu di dengungkan bahwa sistem demokrasi adalah sistem yang benr-benar mampu memberi kesejahteraan bagi rakyat. Namun hal itu pun ikut pula menjadi paradoks bagi perjalanan bangsa ini. Sejak diterapkannya sistem demokrasi ala Bung Karno, demokrasi pancasilanya Pak Harto hingga demokrasi yang dikatakan zaman reformasi tak pernah sekalipun kita dengar adanya kesejahteraan yang benar-benar terwujud. Yang ada hanyalah kesejahteraan di salah satu bidang tertentu saja. Padahal rakyat membutuhkan kesejahteraan di semua bidang kehidupan .
Kita dulu belajar bahwa hanya dengan demokrasi saja maka kesejahteraan benar-benar terwujud. Apabila kita lihat peta dunia sekarang ini maka akan kita lihat hampir semua negara di dunia menerapkan sistem demokrasi yang dianggap sebagai representasi rakyat. Namun sekali lagi kita akan melihat suatu paradoks di dalamnya. Selama ini demokrasi menjanjikan kehidupan yang sejahtera dan damai bagi setiap manusia dan lingkungannya tanpa terkecuali. Tapi dapat pula kita saksikan bagaimana negara-negara yang menganut sostem demokrasi ini sama-sama bermasalah dalam mensejahterakan rakyat mereka. Tak terkecuali Indonesia. Seakan dapat dilihat bahwa demokrasi tak seindah dan semanis janjin janji-janjinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar