Oleh: Naifa Alfath
Akhir-akhir ini suasana dunia tengah tertuju pada musibah gempa dan tsunami yang melanda Jepang pada 11 maret 2011 lalu. Dampak yang dirasakan merambah hingga meledaknya reaktor nuklir di Fukushima dan mengancam terjadinya radiasi nuklir yang berbahaya. Sebelumnya telah tercatat terjadi beberapa gempa bumi dan disusul tsunami dahsyat yang menimbulkan korban jiwa. Salah satunya pernah terjadi di tahun 1960 yaitu terjadi di negara Chili dengan kekuatan gempa 9, 5 skala richter, gempa bumi di Alaska pada tahun 1964 dengan kekuatan 9,2 skala richter, gempa bumi yang melanda lepas pantai barat Sumatra di tahun 2004 dengan kekuatan 9,0 skala richter dan merenggut sekitar 220.000 jiwa.
Keadaan gempa yang terus terjadi selain disebabkan berbagai hal diantaranya pergeseran lempengan bumi tidak dapat dipungkiri bahwa umur bumi sudah semakin tua . Sehingga terjadi berbagai perubahan. Perubahan keadaan dunia juga dapat dilihat dari perubahan iklim yang cukup ekstrim diantaranya pemanasan global. Pemanasan global adalah atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi.
Penyebab pemanasan global diantaranya adalah efek rumah kaca, berbagai gas buangan seperti CO2 . Sebagian panas matahari terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Menumpuknya berbagai gas buangan tidak dapat dipungkiri diakibatkan semakin banyaknya pengkonsumsian kendaraan bermotor berbahan bakar fosil serta munculnya pabrik-pabrik berdiri di dunia dan menghasilkan gas buangan.
Dampak pemanasan global diantaranya adalah iklim yang mulai tidak stabil, peningkatan permukaan air laut, suhu global cenderung meningkat, gangguan ekologis dll. Sumbangan sektor industri terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 19,4%. Sebagian besar sumbangan sektor industri ini berasal dari penggunaan bahan bakar fosil untuk menghasilkan listrik atau dari produksi C02 secara langsung sebagai bagian dari pemrosesannya, misalnya saja dalam produksi semen. Hampir semua emisi gas rumah kaca dari sektor ini berasal dari industri besi, baja, kimia, pupuk, semen, kaca dan keramik, serta kertas.
Sektor industri memang mempunyai andil dalam munculnya efek pemanasan global. Terlebih sektor industri ada hampir diseluruh dunia. Dimana berbagai perusahaan terus mengeruk isi bumi untuk melaksanakan proses industri. Dampaknya juga dapat terjadi pada berbagai bencana alam yang melanda bumi salah satunya bencana banjir bandang di Pidie, NAD di akibatkan pembalakan liar.
Ulah tangan manusia yang terus menerus menghabiskan isi bumi tanpa memikirkan dampak di masa datang telah banyak merugikan manusia. Berbagai perusahaan terus mengambil keuntungan materi semata. Hal ini disebabkan ideologi kapitalisme yang terus bercokol di dunia ini. Cara pandang kapitalisme yang mengejar keuntungan materi semata tanpa memikirkan dampak kedepan telah merugikan umat manusia. Keadaan bumi yang sudah semakin renta ditambah berbagai ulah manusia yang merusak lingkungan yang menyebabkan berbagai masalah yang terjadi di dunia.
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (TQS. Ar-rum :41)
Bercokolnya asas manfaat dan ideologi kapitalisme di setiap bidang yang menjadi akar permasalahannya. Sesungguhnya islam sebagai agama dan ideologi yang sempurna telah memberikan rambu-rambu yaitu Al-Qur’an dan assunah sebagai panduan hidup manusia dan tertuang dalam syariat Islam. Islam mengatur bahwa, penghargaan (pahala) dan hukuman (dosa) diformulasikan dengan baik dalam mengatur tingkah laku pemeluknya termasuk dalam hal pengelolaan lingkungan. Muslim yang menjaga lingkungan dan berlaku baik terhadap semua makhluk hidup akan mendapatkan ganjaran berupa pahala yang besar. Sebaliknya, mereka yang merusak lingkungan dan berlaku jahat terhadap makhluk hidup lainnya akan mendapat hukuman berupa dosa. Bentuk penghargaan dan hukuman tersebut dapat dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari dan dituangkan dalam kebijakan dan peraturan-peraturan dalam masyarakat secara mandiri ataupun melalui campur tangan pemerintah. Sehingga peranan negara sangat penting dalam menuntaskan permasalahan ini. Hal ini telah terbukti ketika islam memimpin dunia dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah selama 14 abad lamanya.
Konferensi Rajab yang dilaksanakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia di bulan juli menyoroti berbagai permasalahan umat yang membutuhkan penyelesaian tuntas yaitu tidak lain kembali pada Islam dalam naungan syariah dan Daulah Khilafah Islamiyah. Salah satunya keadaan dunia yang terus terpuruk di masa kapitalisme sudah seharusnya berubah kembali menjadi tatanan dunia yang dikehendaki sang Pencipta melalui syariatNya.