Jumat, 13 Januari 2012

Fakta Pemilu

PEMILU KEMANA???

Tahun 2012 sudah didepan mata, maka terhitung dari tahun sekitar 2 tahun lagi maka pemilu presiden akan digelar di negeri ini. Maka dapat dilihat beberapa partai disepanjang tahun 2011 mulai bergeliat melakukan berbagai strategi politik untuk bisa memenangkan pemilu tahun 2014 nanti. Berbagai upaya salah satunya verifikasi menjadi peserta parpol diupayakan secara dini oleh para elit politik perpol. Bahkan diantara parpol peserta pemilu 2014 banyak yang merupakan partai baru seperti diantaranya Partai Nasional Demokrat (Partai Nasdem) serta Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) yang diusung mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Salah satu yang patut dicermati upaya yang dilakukan parpol-parpol untuk memenangkan pemilu adalah melakukan pendekatan media yang intensif. Diantaranya bergabungnyya bos-bos media ternama di negeri kedalam kepengurusan partai politik. Diantaranya Surya Paloh pemilik Media Group yang membawahi Metro TV, Media Indonesia, Lampung Post berkecimpung di Partai Nasdem. Selain itu juga ada Aburizal Bakrie pemilik Bakrie group, yang membawahi TV One, ANTV, Harian Suara Karya, vivanews.com berkecimpung di Partai Golkar . Kemudian menyusul Harry Tanoesoedibjo selaku pimpinan Media Nusantara Citra (MNC) Group yang memiliki RCTI, MNC TV, Global TV, Okezone.com, Harian Seputar Indonesia masuk ke dalam kepengurusan Partai Nasdem.
Beberapa kalangan menilai hal ini cukup berdampak pada kampanye partai yang bisa jadi mulai dilakukan melalui media-media yang dimiliki oleh para pengurus partai. Kita pun melihat upaya mempromosikan partai masing-masing sudah mulai terlihat. Selain itu ditahun 2009 lalu upaya penggunaan media dianggap lumayan efektif mengampayekan calaon presiden dan wakil presiden dari partai politik masing-masing. Para elit politik tak dapat dipungkiri mulai terus menyiapkan amunisi dan langkah-langkah agar bisa memenangkan pemilu 2014 mendatang. Padahal ditahun-tahun ini masih banyak permasalahan rakyat yang belum terselesaikan.
Ditahun 2011 saja tingkat pengangguran semakin meningkat. Berdasarkan data BPS tahun 2011 terdapat 8,12 juta orang mengganggur. Sementara data Kadin justru ada tambahan 1,3 juta penggangguran tiap tahun. Angka kemiskinan juga semakin meningkat, berdasarkan data BPS tahun 2011 ada 30 juta orang miskin dengan standar kemiskinan yaitu pengeluarannya kurang dari Rp 230.000 / bulan . Kasus korupsi pun menjadi bumbu hangat di tahun 2011. Masih hangat dengan kasus Nazarudin kemudian disusul dengan kasus yang melibatkan Nunun Nurbaeti serta permasalahan lainnya. Masalah tersebut sejatinya belum menemui penyelesaiannya. Sekarang elit politik malah lebih sibuk memikirkan posisinya di tahun 2014 sehingga berbagai kebijakan seakan mengarah kepada pemilu 2014.
Salah satunya adalah penyelasaian UU BPJS yang baru akan benar-benar terealisasi ditahun 2014. Tentu hal ini cukup membingungkan mengapa baru terealisasi di tahun yang sama saat pemilu akan berlangsung. Walaupun pemerintah beralasan butuh persiapan untuk merelealisasikannya tetapi adanya permainan kepentingan tertentu sudah mulai terlihat. Hal ini lah yang menunjukkan bahwa kebanyakan kepentingan rakyat seakan di kebiri kepentingan pihak tertentu. Belum lagi apabila pada urusan kampanye melibatkan dana-dana tidak jelas khususnya dana asing. Tentu akan sangat berdampak apabila mereka berkuasa seperti halnya sekarang dimana banyak kepentingan asing yang dilegalkan dan di nomor satukan sedangkan kpentingan rakyat dinomor duakan. Hal ini terlihat bagaimana kasus Freeport terus terulang.
Tentu kita tidak bisa berharap perubahan hanya dari pemilu, karena yang terjadi pada setiap pemilu hanyalah terjadi pergantian person bukan melakukan pergantian sebenarnya. Keadaan negeri ini yang terus terpuruk tidak saja disebabkan sosok pemimpinnya atau person di dalamnya tetapi juga karena sistem kehidupan yang cenderung hedonis dan kapitalistik sekuler membuat mereka menjadikan kekuasaan dan materi sebagai yang utama. Sehingga perubahan sesungguhnya tidak hanya dari sisi person tetapi juga harus merambah ke sisi sistem kehidupan.

Jumat, 01 Juli 2011

Opini Islam

Tki ku yang malang

Miris dan prihatin mendengar berbagai berita terkait nasib TKI ataupun TKW yang bekerja di luar negeri. Belum masyarakat di negeri ini tengah digemparkan dengan berita malangnya nasib TKW yaitu Dasem yang terancam hukuman pancung atau denda sebesar Rp 4,7 miliar untuk mendapat kebebasan dari hukuman pancung tersebut. Sekarang ranah publik masyarakat kembali geger dengan adanya berita TKW Ruyati yang mendapat hukuman pancung karena telah mengaku membunuh majikannya. Tidak hanya Ruyati dan Dasem yang mengalami keadaan menyedihkan seperti ini.

Belakangan terkuak bahwa banyak TKI yang harus mengalami nasib yang sama yaitu mendapatkan hukuman mati di berbagai negara. Sehingga dengan cepat pemerintah membentuk Satgas TKI. Namun begitu banyak hal yang perlu dicermati atas berbagai nasib tragis yang dialami para TKI di luar negeri. Tidak hanya sekedar melontarkan opini bahwa pemberian hukuman mati melanggar kemanusiaan namun perlu sekali melihat akar permasalahan yang seharusnya dicermati.

Tak dapat dipungkiri bahwa motivasi terbesar memilih menjadi TKI di luar negeri adalah untuk memenuhi biaya hidup yang kian melangit. Kesejahteraan yang begitu jauh dirasakan memang membebani kehidupan sehari-hari. Lapangan kerja di dalam negeri yang kurang mencukupi membuat pilihan mencari pekerjaan di luar negeri menjadi pilihan. Dengan iming-iming gaji yang lumayan besar maka tidak heran tawaran menjadi TKI adalah tawaran yang cukup mengiurkan. Kemiskinan yang terus meningkat serta ketidaksediaan lapangan kerja di dalam negeri menjadi salah satu hal yang memicu maraknya TKI. Kita dapat membayangkan apabila kemiskinan di negeri ini diatasi serta tersedia lapangan kerja yang cukup maka keinginan masyarakat yang ingin menjadi TKI kemungkinan menurun. Oleh karena itu episode Ruyati bisa kembali terulang apabila kemiskinan belum benar-benar diatasi di negeri ini.

Menyoal hukuman mati maka perkara hukuman mati merupakan perkara yang masih debatable. Sementara masyarakat kita pun sebenarnya masih ambigu mengenai hal tersebut. Dari sisi apa yang dialami Ruyati maka masyarakat kita kebanyakan tidak setuju dengan adanya hukuman mati tersebut. Namu kita juga tak dapat memungkiri rakyat negeri ini pun menginginkan hukuman mati bagi para koruptor karena dianggap begitu menyengsarakan rakyat. Demikian pula, jika ditanya apakah setuju dengan hukuman mati pada terpidana Bom Bali, yakni Imam Samudra, Amrozi dan Ali Imron? Mereka tidak akan menolak. Juga, layakkah pembunuh sadis seperti jagal Jombang Ryan, atau Ahmad Suradji alias Dukun AS, atau Sumiarsih yang membantai satu keluarga, dihukum mati? Tentu, sebagian besar masyarakat menganggukkan kepala.

Itulah fakta, mengapa hukuman mati diperlukan. Selain sebagai bentuk hukuman setimpal atas kejahatan luar biasa yang dilakukannya, sejatinya hukuman mati sangat manusiawi karena membela korban semaksimal mungkin. Bukankah nyawa korban yang begitu mudah dihilangkan para pembunuh itu sangat berharga?. Sangat tidak proporsional jika hukuman mati digeneralisir sebagai bentuk kekejian. Justru, ada saatnya hukuman mati wajib ditegakkan. Pemelintiran soal hukuman mati ini, tak lebih sebagai bentuk islamophobia, yakni ketakutan berlebihan terhadap Islam. Terlebih semangat mendirikan negara Islam, senantiasa terkait dengan upaya penegakan hukum qishos, yang selama ini memang tidak bisa ditegakkan tanpa institusi negara Islam.

Senin, 30 Mei 2011

Ada apa dengan indonesia???

M. Nazaruddin menjadi sorotan publik Indonesia akhir-akhir ini. Kasus suap wisma altet mencuatkan nama dirinya sebagai orang yang paling terlibat skandal ini. Selain itu skandal ini dihubungkan-hubungkan dengan aliran dana yang mengalir ke partai demokrat.Ditambah saat ini Nazaruddin dikabarkan berada di Singapura walaupun belum terjadi pemeriksaan hukum terhadap dirinya. Kasus Nazaruddin seakan menambah panjang kasus korupsi yang terus muncul kepermukaan negeri ini.

Sebelumnya dalam ingatan kita belum hilang munculnya Gayus Tambunan yang menggelapkan uang pajak. Bahkan kasus ini terus berkembang hingga diketahui Gayus bisa plesiran ke Bali bahkan ke Macau sedangkan saat itu Gayus tengah berada dalam penahanan. Hingga kini kasus Gayus belum menemui titik terangnya. Kasus serupa yang menggegerkan rakyat di negeri ini tidak lain adalah kasus Bank Century. Walaupun , Robert Tantular yang dinilai sebagai orang yang paling bertanggung jawab akan permasalahan ini telah mendapat vonis dari pengadilan, namun hal itu belum memberikan kepuasan akan tuntasnya kasus Bank Century.

Sejumlah nama yang disinyalir terkait dengan kasus ini belum mendapat pemeriksaan hukum secara pasti. Berbagai kasus yang muncul di negeri ini seakan datang silih berganti. Belum habis dan tuntas masalah kasus Bank Century, tiba-tiba muncul kasus Gayus Tambunan hingga opini dan perhatian publik menjadi terpecah dan teralihkan. Awalnya perhatian publik tearah pada penuntasan kasus Bank Century kemudian dengan cepat perhatian berubah kepada kasus Gayus Tambunan. Padahal kasus Bank Century hingga kini belum menemukan titik penyelesaiannya.

Hal yang sama terjadi pada kasus Gayus Tambunan. Kasus ini tiba-tiba saja menghilang seiring munculnya kasus baru, sedangkan saat ini penyelesaian kasus Gayus belum juga menemukan hasil. Berbagai kasus muncul di negeri ini seakan salin tumpang tindih namun tak satu pun menghasilkan penuntasan kasus tersebut. Kasus yang muncul pun beragam baik kasus korupsi, politik, ekonomi dll.

Tentu saja hal ini menunjukkan betapa carut marutnya keadaan negeri ini. Berbagai kasus yang muncul juga menunjukkan betapa upaya penuntasan berbagai kasus yang terjadi tidak dengan profesional. Kasus yang timbul tumpah tindih seperti ini seakan menunjukkan adanya upaya pengalihan isu maupun opini sehingga berbagai kasus yang muncul tidak diketahui penuntasannya.

Keadaan ini tentu bukanlah hal yang ideal di suatu negara. Hal ini tidak lain dikarenakan adanya berbagai kepentingan kelompok maupun individu yang muncul dipermukaan. Hingga penuntasan berbagai kasus tidak pernah berjalan dengan baik, karena dipengaruhi berbagai kepentingan segolongan pihak.

Keadaaan ini yang menunjukkan kegagalan upaya dari pemerintah dalam mengatasi berbagai permasalahan umat. Kegagalan ini tidak lain disebabkan karena sistem di negeri ini adalah sistem yang berpihak hanya pada segolongan orang maupun individu. Sistem sekulerisme-kapitalisme yang bercokol di negeri ini telah membuat berbagai kepentingan hanya berpihak pada sebagian orang saja.

Sistem Islam menjawab problematika umat.

Telah sangat nampak berbagai upaya yang diselesaikan di negeri tidaklah menemui titik temu. Bercokolnya sistem sekuler-kapitalisme menjadi sumber masalah utama. Sistem Islam memberikan jawaban upaya pencegahan berbagai permasalahan umat. Sistem sanksi dalam Islam dengan tegas mengatur berbagai penuntasan kasus kriminal. Sistem Ekonomi Islam menjamin kesejahteraan. Islam memberikan solusi tuntasdi setiap permasalahan. Hanya dengan kembali pada Islam lah berbagai permasalahan umat akan terpecahkan.

Senin, 02 Mei 2011

Buruh Dalam Dilema

Menjelang tanggal 1 Mei maka tidak akan lepas dari peringatan Hari Buruh Sedunia. Menapak tilas akan hari ini , yang akan tergambar dalam benak kita adalah berbagai hal terkait para buruh. Mulai dilihat dari kesejahteraan hingga berbagai masalah yang terus menimpa kaum buruh. Tak dapat dipungkiri dengan keadaan ekonomi sekarang , kesejahteraan buruh kian menurun. Padahal sejatinya peranan para buruh dalam sektor pembangunan terutama perekonomian dan sektor lain sangatlah vital.

Namun, setiap tahun peringatan hari buruh maka akan kita dapati pula setiap tahun tuntutan perbaikan kesejahteraan terus di dengungkan. Salah satunya berupa aksi peringatan hari buruh tahun 2010 lalu. Bertepatan dengan Hari Buruh Internasional, ribuan pengunjuk rasa melakukan unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat. Dari Bundaran HI, mereka kemudian bergerak ke depan Istana Negara. Mereka menuntut akan jaminan sosial bagi buruh. Kalangan buruh menganggap penerapan jaminan sosial saat ini masih diskriminatif, terbatas, dan berorientasi keuntungan.

Berdasarkan sejarah peringatan hari buruh sendiri maka sangat identik dengan berbagai pandangan kaum buruh terhadap berbagai permasalahan yang menghimpit hidup mereka. May Day sebutan lain hari buruh lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.

Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi di tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.

Perjuangan kaum buruh sesungguhnya menjadi sesuatu yang bisa dipahami ditengah berbagai himpitan ekonomi dan permasalahan bangsa , kesejahteraan masyrakat banyak yang terabaikan. Berkembangnya sistem ekonomi kapitalisme hingga neoliberalisme hingga abad 21 semakin menambah kesulitan yang dialami kaum buruh. Seperti halnya yang terjadi di abad 19 silam dimana sistem kapitalisme baru muncul dan berkembang telah menimbulkan berbagai masalah bagi kaum buruh. Seperti perlakuan diskriminatif, upah yang tidak sesuai, taraf hidup yang tidak memadai, dll.

Sistem kapitalisme yang berlandaskan pada kebebasan dan diterapkan hampir di semua negara di dunia, telah membuat berbagai polemik ekonomi dan permasalahannya merambah di semua bidang. Distribusi kekayaan tidak merata, berbagai perusahaan asing menguasai sumber daya alam, fungsi sektor riil digantikan sektor non riil. Hal ini telah menyebabkan kesejahteraan rakyat termasuk kaum buruh tidak dapat terpenuhi.

Hingga saat ini tingkat kemiskinan bahkan pengangguran terus meningkat, ditambah kesejahteraan buruh terus menurun di tengah himpitan ekonomi. Hal ini tidak lain disebabkan terus bercokolnya sistem kapitalisme-sekulerisme di semua lini kehidupan baik sektor ekonomi, politik, budaya dll. Dan menjadikan setiap lini kehidupan hanya berasaskan manfaat saja tanpa mempertimbangkan berbagai perkara lainnya.

Islam telah memberikan jawaban melalui syariat Islam terkait setiap permasalahan kehidupan. Tidak terkecuali permasalahan kaum buruh. Kesejahteraan setiap individu di atur dan diberikan jaminan oleh Islam. Sistem ekonomi islam mengatur pemerataan distribusi kekayaan dan pengelolaan keuangan negara. Sehingga setiap individu akan merasakan kesejahteraan tanpa terkecuali. Islam telah memberikan naungan kesejahteraan bagi setiap umat tidak terkecuali non muslim. Selama 13 abad ketika islam direpakan secara sempurna dalam naungan Khilafah Islamiyah telah memberikan bukti bagaimana luar biasanya islam memberikan pengayoman pada setiap umat.

Hingga saatnyalah sistem kehidupan kita berubah menjadi sistem yang benar sesuai aturan Allah SWT yang merupakan pencipta kita. Dan sangat mengetahui apa yang dibutuhkan oleh umatNya.

Pengikut